Prinsip Ayub

Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)

Kerapkali kita diliputi perasaan bersalah saat menerima berkat-berkat materiil, ketika juga memperhatikan begitu banyak kebutuhan dalam dunia di sekeliling kita. Peristiwa Wasior, Mentawai, Merapi, dan entah apa dan di mana lagi musibah serta bencana alam yang terjadi. Lalu saya mengingat sahutan Ayub kepada istrinya: Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?

 

Ayat di atas sering dimanfaatkan dalam mengatasi kekecewaan atau ketidakpuasan. Tetapi pendirian tersebut juga mempraktekkan rasa berterimakasih untuk segala berkat. Rasul Paulus telah belajar bagaimana untuk bersukacita dan bergembira dalam kecukupan maupun kekurangan (Filipi 4:10-13).

Allah mempunyai interes dalam mengajar kita tentang kepuasan hati dan kesukaan baik dalam mendapatkan perolehan atau untung maupun saat kehilangan. Mengucap syukur kepada Tuhan di dalam segala sikon memberi kesempatan luas meresponi iman akan Kedaulatan-Nya serta Providensi-Nya. “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” –Ayub 1:21.

Maksud tujuan Allah bagi Ayub dalam penderitaan yang diwajibkan atasnya, ialah: Pertama, untuk memurnikan iman Ayub; Kedua, mengubah karakternya agar semakin mulia melalui hukuman berupa kemalangan. Betapa amat berbeda dengan motif iblis, yang: Pertama, sepenuhnya jahat; Kedua, ingin mencelakakan Ayub sehebat mungkin; Ketiga, mendorong Ayub untuk mengutuki Allah karena nasib malang yang menimpanya.

Ayub menang atas dosa, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (2:10b). Ia telah mempergunakan bibirnya untuk mengucap syukur dan berterimakasih kepada Allah bagi segala hal yang diterimanya dalam hidup, baik atau pun buruk. Pakailah Prinsip Ayub! (nvdk)

Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku berterimakasih untuk segala sesuatu yang Engkau izinkan menghampiri hidupku. Sebab aku tahu tidak pernah Engkau mempunyai niat jahat terhadapku, maksud-Mu selalu mulia untukku. Amin.