Wujud dari Dedikasi

“Sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.” (1 Korintus 16:9)

Adalah seorang wanita yang menghabiskan hidupnya sebagai baby sitter. Ia dapat menemukan pekerjaan yang dipandang orang. Namun dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan, tidak melunturkan semangat kerjanya. Serangkaian acara yang di gelar saat ia menutup umur di usia senja, merupakan kesan mendalam majikannya atas tanggung jawab yang telah ditunjukkan wanita itu semasa hidup. Puluhan tahun mengabdi bukan waktu yang singkat, tanpa peduli profesinya di pandangan sebelah mata oleh orang lain. Sikap serupa ditunjukkan juga seorang bapak yang mengabdi di sebuah keraton. Pendapatan bukan masalah besar baginya. Dalam sebuah obrolan ia berkata, “Dapat menyelesaikan tugas dengan baik sebagai abdi dalam, sudah cukup membuat saya puas dan bahagia.” Tak heran selama puluhan tahun pula, keluarganya mendapatkan apresiasi dari pihak keraton.

 

Hidup bertanggung jawab dewasa ini seakan menjadi hal langka. Berbicara mengenai tanggung jawab, ada banyak aspek yang penting untuk diperhatikan. Di antaranya, tentang dedikasi. Aspek yang bisa diabaikan karena faktor-faktor tertentu. Apresiasi yang kurang atau malah tidak ada, sikon tak mendukung, adanya tekanan dan lain sebagainya, acap kali dijadikan dalih seseorang mengapa dirinya menjadi kurang atau tidak bertanggung jawab. Ketika fakta ini terjadi, apakah kita lupa bahwa sebagai orang beriman kita dituntut hidup bertanggung jawab, dalam setiap tugas yang Tuhan percayakan di bidang apa pun? 

Ketika Tuhan memberi kesempatan dan mempercayakan sesuatu, berarti kita sedang tidak bertanggung jawab pada satu pihak tertentu saja. Tapi kepada Dia, Tuhan yang juga majikan kita. Kolose 3:23-24 menuliskan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

Tidak bijaksana kalau karena faktor dari dunia ini membentuk kita menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab. Semua yang kita lakukan tidak luput dari perhatian Tuhan dan Ia memperhitungkannya.  Bertanggung jawablah terhadap tugas kita, selagi Dia masih memberi kesempatan.

Doa: Bapa, mampukan aku untuk menjadi pribadi yang bertanggung seperti yang Kau kehendaki. Dan ampuni sekiranya hal-hal tertentu telah membuatku tidak bertanggung jawab. Amin.