Terinspirasi Teh Berani

Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok. (2 Samuel 22:30)

D i kawasan yang cukup terpencil di kepulauan Ambon, ada istilah “teh berani” yang digunakan oleh masyarakat. Teh berani ini disajikan oleh tuan rumah, bila ada yang bertamu. Biasanya sang tuan rumah akan berkata, “Teh berani saja ini,” kepada tamunya. Itu artinya teh akan keluar sendiri, tanpa hidangan lainnya. Bila diartikan secara harafiah, teh yang keluar adalah teh yang berani keluar sendiri, tanpa ditemani oleh teman-temannya, seperti pisang goreng, ketimus, bagea atau yang lainnya. Mungkin juga tuan rumah sengaja menyebutkan nama “teh berani” agar sang tamu tidak mengharapkan tambahan suguhan lainnya. Tradisi yang unik, bukan?

Namun di balik keunikan tradisi “teh berani” tersebut, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Beberapa siswa yang pernah saya ajar dulu, sering sekali dengan mudah mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Wah, saya nggak punya alatnya, Bu!” atau “Sepertinya nggak bisa, Bu, karena bahannya mahal!” Kalimat-kalimat senada itu biasanya mereka pakai untuk “menolak” tugas yang diberikan oleh para guru. Kalimat-kalimat yang lebih bermuatan pesimistis daripada optimistis. Mari bandingkan dengan “teh berani” di atas. Dengan segala keberadaannya, tuan rumah siap menyuguhkan tamunya teh berani. Kehadirannya mungkin tidak terlalu menggembirakan bagi si tamu, namun tetap saja memberi manfaat dalam mengursir kehausan, bukan? Berani, walau harus keluar sendirian. Mengetahui filosofi “teh berani” ini mengajak kita untuk lebih berani menghadapi apa pun, walau harus keluar sendirian. Sebagaimana tuan rumah selalu menemaninya, Roh Tuhan juga selalu siap menyertai kita. Daud membuktikannya dengan menuliskan nats di atas.

Menutup tahun ini dan membuka lembaran baru di tahun yang akan datang, mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah ketakutan tersendiri. Bayang-bayang tagihan, janji-janji yang belum terpenuhi serta kegagalan di masa lalu, mungkin menghantui pikiran setiap kali memcoba memejamkan mata di malam hari. Mari datang pada Tuhan Yesus, yang mengetahui rancangan hari depan kita (Yeremia 29:11). Mintalah agar Yesus selalu menyertai tiap detik kehidupan kita ini, dan yakinlah bahwa telinga-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar keluh-kesah kita. (em)

DOA : “Ya Yesus, berjalanlah selalu di setiap detik kehidupanku. Jangan biarkan aku berjalan sendirian. Raih aku selalu untuk mendekat pada-Mu, dalam segala suka dan duka di hidupku ini. Amin.”