Kala Mengucap Syukur

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. (Kol 4:2)

Mengucap syukur tampaknya sudah menjadi hal yang biasa kita lakukan sebagai seorang anak Tuhan. Tidaklah sukar untuk mengucap syukur atas semua berkat, kebaikan, pertolongan dan mujizat yang kita alami, tetapi sangatlah sukar untuk bersyukur jika kita berada dalam keadaan sebaliknya, bukan? Ketika kemalangan, kegagalan, kebangkrutan, sakit kronis dan kedukaan kita alami dalam hidup ini, maka serasa berat untuk menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan. Hal seperti itu lumrah dan bukan saja dialami oleh anak-anak Tuhan sebagai jemaat, tetapi juga dapat dialami oleh seorang hamba Tuhan. Mengucap syukur dari mulut seringkali juga tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati karena diucapkan oleh kita secara terpaksa.

Ada sebuah hal penting yang dinasehatkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose dalam teks di atas, yaitu bahwa kita harus bertekun dalam doa dan berjaga-jaga ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan. Mengapa hal itu penting dilakukan? Karena problema hidup dapat membuat kita kehilangan gairah dan semangat untuk bersyukur. Ingat, saat itu rasul Paulus sedang berada dalam penjara karena berita Injil dan bisa saja ia kehilangan semangatnya untuk bersyukur. Demikian juga si iblis dapat memprovokasi kita untuk tidak perlu bersyukur dengan berbagai masalah yang kita hadapi.

Bersyukur harus disertai dengan bertekun dalam doa dan berjaga-jaga! Bertekun dalam doa ditujukan kepada Tuhan, dan berjaga-jaga ditujukan terhadap ancaman dan tipu muslihat si iblis dan kuasa kegelapan yang mencoba untuk menjatuhkan iman kita. Allah senang kalau kita selalu bersyukur tanpa kuatir dengan keadaan yang terjadi sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Filipi: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6).

Perhatikanlah keadaan kita ketika mengucap syukur kepada Tuhan. Biarlah hal itu dilakukan sambil bertekun dalam doa dan selalu waspada agar kita mengucap syukur dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan Tuhan. (phm)

DOA: “Terima kasih Tuhan karena Engkau mengajarku untuk mengucap syukur dengan benar, yaitu dalam iman, kekudusan dan kebenaran di hadapan-Mu. Amin.”