GPdI Ketapang, Jakarta



Haleluya! Kerukunan datang bila dimulai dengan saling mengasihi dan kerelaan memahami kelebihan dan kekurangan orang lain.

SMS Roti Surgawi - EKKLEVISION

You are here: Home arrow Khotbah arrow Khotbah Minggu, 11 Juli 2010
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Khotbah Minggu, 11 Juli 2010 PDF Print E-mail
pdt_a.h_mandey.jpgAPSINTUS (bagian 1)
Ayat Pokok: Ibrani 12:12-17
Oleh: Pdt. A.H. Mandey


Banyak orang yang menamakan dirinya orang Kristen. Jika ditanya apakah senang jadi anak Tuhan? Pasti banyak yang menjawab senang, apalagi kalau mendapat berkat yang banyak dan banyak mendapat pertolongan Tuhan. Namun sesungguhnya apakah hal-hal itu yang membuat kita senang menjadi anak Tuhan? Senang atau tidak adalah tergantung dari diri kita sendiri. Tuhan mengatakan bahwa kesenangan yang kita miliki sekarang hanya merupakan ’uang muka’ dari Tuhan, belum sepenuhnya.

”Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah ......” (Ibrani 12:12). Tangan yang lemah = tangan yang tergantung, artinya tangan yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. ”.... sebab tidak ada kekuatan pada lututku, .....” (= lutut yang goyah). Banyak orang Kristen yang keadaannya seperti ini. Namun kita harus berusaha supaya tangan yang lemah dan lutut yang goyah bisa berfungsi sesuai. Roma 12 berbicara tentang kasih karunia; diberikan kepada setiap anggota tubuh Kristus. Ada yang bernubuat, memimpin, mengajar, dan lain-lain. Tuhan melengkapi kita dengan kasih karunia untuk berbuat sesuatu. Jangan menjadi anggota yang tidak berfungsi, karena dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa carang yang tidak berbuah akan dikerat dan dibuang ke dalam api.

”Berusahalah hidup damai dengan semua orang ......” Untuk hidup damai kita harus berusaha, ada tenaga yang harus kita keluarkan dan ada pengorbanan yang harus kita lakukan, serta kita harus mempunyai kekudusan hati. Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Wahyu 1 – 7 menceritakan tentang kedatangan Tuhan. Ketika Yesus datang, semua mata yang ada di bumi ini melihat kepada kedatanganNya. Yesus akan datang dengan cara yang sama seperti pada waktu Dia naik. Dia naik dengan tubuh kebangkitan, juga akan turun dengan tubuh kebangkitan. Haleluyah!

Seperti seorang kaya akan pergi dan meninggalkan semua kekayaannya kepada hambanya, namun nanti ketika kembali dia akan minta pertanggungjawaban dari hambanya, demikianlah Tuhan juga akan minta kepada kita semua untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat.

Apsintus (= pahit) adalah orang besar yang diurapi penuh dengan roh kudus yang menyala-nyala, lalu jatuh dan menimpa sepertiga dari air sungai dan mata air sehingga menjadi pahit sama seperti namanya. Kisah ini sama dengan kejadian jatuhnya si bintang kejora (Kejadian 1:2 dan 3), menjadi iblis karena ingin menjadi lebih besar daripada Allah, lalu dicampakkan ke bumi. Seringkali sifat Apsintus juga ada pada kita; tidak menjaga fungsi kita, cenderung mengerjakan menurut kemauan kita sendiri. Ini terjadi karena kita tidak mengerti rencana Tuhan.

Esau, karena tidak peduli hari esok, telah menukarkan hak kesulungannya dengan sepiring makanan sehingga dia kehilangan berkat dua kali-nya. Dia menangis, namun tidak memperoleh kesempatan lagi.

Jadi jika sekarang kesempatan masih ada, luruskan jalan dan jangan bengkok. Tuhan bersedia memulihkan tangan kita yang lemah dan lutut kita yang goyah. Haleluyah!

 
< Prev   Next >
Share |


Gembala

  pdt_ah_mandey.jpg
  Pesan Awal Tahun 2010 Pdt. A.H. Mandey kepada Jemaat Ketapang:

Lanjutkan perjuanganmu bersama YESUS...


Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh. 
Filipi 3:16