Khotbah Minggu, 13 Agustus 2017

Hidup yang Berbuah
Oleh: Pdt. Andy Idrus (GPdI Pademangan)
Ayat Pokok: Yohanes 15:1-2

Yesus ingin murid-murid-Nya menjadi orang percaya yang berbuah. Dalam perjamuan menuju Getsemani, Yesus berbicara tentang Pokok Anggur.  “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yoh. 15:1-2). Setiap ranting harus melekat kepada pokok anggur yaitu Yesus, dan setiap ‘ranting’ harus dibersihkan dari sakit hati, dendam, akar pahit, kemarahan, kebencian, supaya ia berbuah.

Bagaimana caranya supaya hidup kita berbuah?

1. Hubungan kita dengan Tuhan harus intim; melekat dengan Tuhan.
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (ayat 4).

2. Hubungan kita dengan sesama saudara seiman harus saling mengasihi.
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (ayat 12).

Tidak mudah melakukannya. Namun kita dapat belajar dari pengalaman gereja yang pertama. Setiap hari mereka berdoa, berkumpul dan memecahkan roti, member apa yang bisa mereka berikan. Ada yang menjual hartanya untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin. Tuhan mengajar kita untuk member kepada orang lain. Bila kita mempraktekkannya, kita akan mengalami sendiri mujizat Tuhan. Kita berdoa, kuasa Tuhan dinyatakan, hadirat-Nya hadir, pertolongan-Nya datang.

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yoh. 3:18).

3. Hubungan kita dengan orang-orang yang tidak seiman.
“…  Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:39)

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yoh. 15:18,19). Kita harus percaya setiap saat kalau kita milik Yesus yang empunya sorga.

Gereja harus bersaksi
Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Ceritakan hal ini kepada orang lain. Bahwa kita adalah ahli waris sorga, bukan ahli waris dunia. Kalau kita mati, kita akan tinggal bersama-sama dengan Tuhan di sorga. Dan sebagai ahli waris sorga yang artinya kita adalah anak-anak Tuhan, harus memberikan kepedulian kita kepada orang-orang dunia yang membenci kita. Jangan mengutuk, tetapi berkatilah mereka. Ketika musuh-musuh menganiaya kamu, berdoalah.

Roh Kudus akan memberikan kekuatan supaya kita bisa bertahan sampai langkah yang terakhir, seperti yang Paulus katakan, “Saya sudah sampai di garis akhir, saya sudah pelihara iman, sekarang telah tersedia mahkota kebenaran yang Tuhan berikan kepadaku, tetapi bukan hanya kepadaku saja, melainkan kepada semua orang yang menantikan Tuhan.” Haleluyah! Tuhan Yesus memberkati saudara!