Jangan Jadi Murtad

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4:20-21

Manusia suka sekali mengklasifikasikan apapun yang ada di sekitarnya baik itu tumbuhan, binatang, dan sebagainya. Dalam Alkitab, disebutkan berbagai tipe manusia; orang yang tidak kenal Tuhan, orang fasik, orang yang setia dan ada orang yang murtad. Di antara sekian banyak ‘tingkatan kerohanian’, orang murtad seringkali dianggap sebagai tingkatan yang paling bawah. Alkitab sendiri berkata bahwa orang yang murtad itu cocok dengan peribahasa “Anjing kembali ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”  (2 Ptr. 2:20-22).

Murtad biasanya diartikan sebagai tindakan berbalik dari Tuhan, membelakangi Tuhan yang tadinya diikuti. Itu sebabnya kita tidak terima jika kita yang setia beribadah dan datang ke gereja dikatakan murtad oleh orang lain.

Tetapi betapa mengejutkan bahwa ternyata seorang yang ‘setia beribadah dan datang ke gereja’ pun bisa disebut sebagai orang yang murtad, bahkan lebih buruk dari orang yang tidak beriman, jika orang tersebut lalai untuk memelihara saudara/keluarganya. Rasul Paulus menuliskan “Tetapi jika ada orang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Tim. 5:8).

Tuhan Yesus pernah mengecam para Ahli Taurat dan Orang Farisi yang mengajarkan bahwa seseorang boleh melalaikan kewajibannya untuk memelihara orang tua asalkan dengan dalih bahwa apa yang seharusnya dipakai untuk memelihara orang tua telah dipakai sebagai persembahan kepada Tuhan (Mat. 15:4-6).

Ternyata Firman Tuhan tidak memberikan pembenaran untuk tindakan-tindakan kita yang melalaikan keluarga kita dengan alasan apapun juga, termasuk menjadikan pelayanan dan ibadah sebagai dalihnya. Tuhan begitu tegas mengatur tentang sikap kita terhadap sesama, teristimewa keluarga kita sendiri.

Benarlah ayat mas kita hari ini; kita hanya dapat berkata bahwa kita benar-benar mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika kita sungguh-sungguh mengasihi sesama yang kelihatan. Jika tidak, kita adalah pendusta.

Doa: Tuhan Yesus, ajar aku untuk dapat mengasihi saudaraku dengan tepat. Amin.