Terbesar dalam Kerajaan Sorga

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Matius 18:1)

Pada umumnya setiap manusia memiliki sifat suka berkompetisi. Sifat ini ditandai dengan keinginan untuk menang dan mengalahkan orang lain yang menjadi pesaingnya. Salah satu bentuk dari keinginan duniawi itu adalah ingin menjadi yang terbesar, terhebat, terpandai, terkaya, terkenal dan sebagainya. Hal itu juga yang dimiliki oleh murid-murid Yesus yang bertanya kepada-Nya seperti yang kita baca dalam teks di atas.

Secara manusiawi, hal itu dapat diterima dan dibenarkan sebagai sesuatu yang wajar. Namun bila diterapkan secara rohani, hal itu tidaklah tepat. Orang yang demikian itu cenderung memiliki kesombongan dan ambisi secara rohani. Hal itu dapat kita ketahui dari jawaban Yesus atas pertanyaan murid-murid Yesus tersebut. Yesus mengambil contoh seorang anak kecil dan berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3).

Keinginan menjadi yang terbesar adalah salah satu karakter yang tidak dikehendaki oleh Allah, karena hanya Dia saja yang patut menerima segala kebesaran dan kehormatan. Dia mau supaya kita menyadari siapakah diri kita. Frederick W. Robertson, seorang hamba Tuhan dari Inggris yang hidup pada abad ke-18 mengatakan: “Kebesaran manusia terdapat pada kedua hal ini, yaitu memiliki Allah yang tinggal dalam kita untuk memberikan karakter-Nya kepada kita, dan bahwa kita menyadari kehadiran-Nya, di mana kita adalah milik-Nya dan Ia adalah milik kita. Yang pertama adalah keselamatan; yang lainnya adalah kepastian akan hal itu.”

Jika kita ingin menjadi yang  terbesar, biarlah kita menjadi seperti seorang anak kecil yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan sebagai Bapa kita, yang selalu siap bertindak untuk menjaga dan menolong karena ketidakberdayaan kita. Tanpa Dia, kita tidak dapat berhasil dalam segala aspek kehidupan kita. Jadilah yang terbesar dalam kerendahan hati, bahwa kita adalah milik-Nya dan hidup karena anugrah-Nya. Haleluya. (phm)

DOA: “Hanya karena anugerah-Mu saja aku beroleh keselamatan dan kehidupan yang kekal. Tolong aku untuk menyadari dan mengenal siapa diriku sebenarnya. Amin.”